Weekly News

Mantan presiden Chen Shui Bian menuntut Menhankam Chen Zhao Min

Pernyataan dari menteri hankam Chen Zhao Min yang sebelumnya menyebutkan bahwa luka pada perut mantan presiden Chen Shui Bian bukan karena tragedi penembakan di kota Tainan saat berlangsungnya kampanye pemilu di tahun 2004 lalu. Hal ini membuat Chen Shui Bian menjadi berang. Walau Chen Zhao Min juga telah meminta maaf atas kekhilafan yang dilakukannya, namun mantan presiden Chen pada tanggal 27 Mei melalui pengacaranya Hsu Guo Yung mendatangi pengadilan dan menuntut Chen Zhao Min telah melakukan tindakan pencemaran nama baik, dan meminta ganti rugi sebesar NT$ 10 juta.

Chen Zhao Min sendiri pada tanggal 21 Mei lalu menyebutkan bahwa luka yang ada pada mantan presiden Chen bukan karena peristiwa penembakan 319, dan hal ini telah membuat mantan presiden menjadi berang.

Walau Chen Zhao Min telah membuka jumpa pers pada tanggal 26 Mei dan meminta maaf secara terbuka, namun Hsu Guo Yung menganggap, permintaan maaf dari Chen Zhao Min sendiri adalah terhadap struktur kementrian pertahanan dan masyarakat saja, tidak meminta maaf secara langsung kepada mantan presiden Chen. Hsu menegaskan bahwa pada saat penuduhan diucapkan, Chen Zhao Min menyebutkan nama yang dituduh secara lengkap, namun saat pernyataan maaf malah tidak menyebutkan nama yang dituju, ini merupakan satu kekosongan belaka, dan semua itu dilakukan karena adanya permintaan dari atasan Chen Zhao Min.

Hsu mengatakan,“Karena sebenarnya Chen Zhao Min tidak meminta maaf, oleh karena itu saya menyarankan mantan presiden Chen untuk terus melakukan tuntutan, dan beliau menerima usulan saya, sementara mengenai biaya ganti rugi seperti yang saya ajukan kepada mantan presiden chen, yakni NT$ 10 juta.”

Hsu mengatakan jika diperlukan mantan presiden Chen juga bersedia untuk hadir dalam pengadilan. Tuntutan ini menjadi kasus pertama dalam sejarah dimana mantan presiden melakukan tuntutan terhadap menteri.

2008/05/27 Radio Taiwan Internasional

Pertemuan Ma dan Bian mendiskusikan Konsensus 92

Sejak Ma Ying Jeou, kandidat dari partai KMT, memenangkan pemilu presiden tahun ini, ia memulai serangkaian kunjungan silahturahmi ke berbagai tempat, termasuk mengunjungi mantan presiden Lee Teng Hui serta pertemuan dengan presiden Chen Shui Bian di Taipei Guest House atas prakarsa istana kepresidenan pada tanggal 1 April 2008. Pertemuan ini juga membahas mengenai Konsensus 92 yang merupakan hasil keputusan yang dicapai dalam rapat antara kedua komite hubungan antar selat di Hongkong pada tahun 1992. Dari sudut pandang KMT, Konsensus 92 merupakan pernyataan satu Tiongkok dengan persepsi sendiri-sendiri, namun partai DPP tidak mengakui Konsensus tersebut.Dalam pertemuan tersebut, presiden Chen menyebutkan bahwa tidak ada istilah persepsi masing-masing. Chen menganggap bahwa Konsensus 92 tidak pernah ada secara nyata, selain itu tidak terdapat isi dan visi yang jelas. Dengan banyaknya ketidakjelasan tersebut, bagaimana mungkin pembicaraan antar selat dapat dilakukan berdasarkan konsensus tersebut. Sekalipun pembicaraan telah berlangsung selama 1 jam, namun pertemuan Ma dan Chen tidak membuahkan hasil apapun, dan masing-masing memiliki pandangan masing-masing terhadap Konsensus 92. Persamaan yang ada hanya pada tetap mempertahankan kedaulatan negara dan menggunakan posisi yang sederajat untuk melakukan pembicaraan dengan Daratan Tiongkok.

2008/04/01, Radio Taiwan Internasional.

Taiwan Tolak Bersatu Dengan China

Presiden Taiwan yang baru terpilih, Ma Ying Jeou, menegaskan Taiwan tidak akan menyatu dengan China, tetapi mereka meminta adanya perjanjian agar bisa hidup berdampingan secara damai dengan negara tersebut.

“Kami tidak akan menyangkal keberadaan mereka, tetapi kami tidak bisa mengakui kekuasaan mereka,” tegas Ma. Ia juga mengemukakan tidak mempunyai rencana untuk berkunjung ke China dalam waktu dekat meski dalam kampanyenya Ma berjanji untuk memperbaiki hubungan dengan Beijing.

“Saya tidak memiliki rencana untuk mengunjungi China dalam waktu dekat,” kata Ma sehari setelah ia memenangi kursi kepresidenan negara tersebut, Sabtu (22/3) lalu.

Ia menambahkan, akan memperbaiki hubungan Taiwan dengan China jika ‘Negeri Tirai Bambu’ itu setuju membongkar lebih dari 1.000 rudal China yang sekarang mengarah ke pulau formosa tersebut.

“Kami ingin menyelesaikan masalah yang sesungguhnya. Jika bisa melakukan itu, kami akan memikirkan apakah kunjungan kelas tinggi diperlukan,” ujarnya.

Ma Ying Jeou dari partai oposisi Kuomintang memenangi 58% suara masyarakat Taiwan dalam pemilihan presiden, unggul 17 poin dari jumlah suara partai pesaing Partai Progresif Demokratis (DPP) pimpinan Frank Hsieh. Sebelum kemenangan Ma, Hsieh memperjuangkan kemerdekaan Taiwan dari China. Meski begitu, masyarakat Taiwan tidak lagi mendukung DPP karena partai itu tersandung kasus korupsi.

“Masyarakat Taiwan telah banting setir atas dukungan mereka terhadap pemerintahan DPP yang telah menyalahgunakan kekuasaan mereka dan mengeksploitasi sumber daya negara. DPP kemudian membagi hasil di antara mereka dalam kolaborasi mereka dengan kelompok-kelompok bisnis,”

Minggu, 23 Maret 2008 Media Indonesia.com

Ma: “Taiwan Negara Yang Berdaulat”

MaYing-jeou,PresidenTaiwan terpilih berjanji menjadikan negaranya sebagai negara berdaulat. Ini dalam rangka memosisikan hubungan bilateral dengan China.

Ma menegaskan, Taiwan tidak akan memosisikan sebagai provinsi yang menjadi bagian teritorial dari China. Ma menjadi presiden terpilih setelah memenangkan Pemilu dengan meraih 58% suara, sementara kandidat dari partai berkuasa Partai Progresif Demokratik (DPP) Frank Hsieh hanya merebut 42%.

Secara kenegaraan Ma akan memangku jabatan sebagai presiden pada 20 Mei mendatang.Ma menegaskan, Taiwan akan mendesak adanya perjanjian ”tanpa penolakan” dengan Pemerintah China agar bisa hidup berdampingan secara damai. Dia juga menegaskan bahwa Taiwan menerima keberadaan China, tetapi negaranya tidak akan mengakui kedaulatan negara Tirai Bambu itu.

Ma menuturkan, perjanjian ”tanpa penolakan” itu adalah jalan tengah dalam menyelesaikan hubungan antara China dan Taiwan. ”Dalam negosiasi dengan China, Taiwan tidak akan membicarakan tentang masa depan negara ini. Identitas Taiwan harus dihargai di mata China. Kita akan bernegosiasi satu sama lain dengan pijakan yang sama, yaitu sebuah negara yang berdaulat,” ujar Ma.

Dalam hal ”One China”, Ma menuturkan, negaranya bisa menginterpretasikan dengan cara pandangnya sendiri. Dia mengatakan, kebijakan lama yang saling menolak keberadaan masing-masing negara adalah masa lalu.Ke depan,Ma memandang kerja sama yang saling menguntungkan adalah ”keluar dari pertanyaan lama.” Dalam kerja sama dengan Taiwan, Ma memandang diperlukan kerja sama untuk membangun perdamaian dan kesejahteraan di antara kedua negara itu.

Kerja sama yang akan diintensifkan adalah kerja sama perdagangan, penerbangan langsung, pariwisata, dan pakta perdamaian untuk mengakhiri ketegangan antara Taiwan dan China sejak 1949. Ma juga yakin kepada rakyat yang memilihnya bukan hanya untuk empat tahun ke depan saja, tetapi dia juga berharap dipilih kembali nanti. ”Jika rakyat Taiwan memercayakan kepada saya untuk memimpin Taiwan selama delapan tahun, saya akan menyiapkan fondasi selama seabad untuk perdamaian dan kesejahteraan,”ujarnya.

Ma menuturkan bahwa pihaknya belum merencanakan kunjungan ke China dalam waktu dekat. Dia juga menjelaskan, pihaknya akan mempertimbangkan kunjungan tingkat tinggi ke China dan itu pun kalau diperlukan. Untuk saat ini, Ma menuturkan bahwa pihaknya ingin mengerjakan masalahmasalah yang krusial bagi negaranya. Sebagai simbol membaiknya hubungan China dan Taiwan, Ma menuturkan bahwa negaranya akan menerima kedatangan panda di kebun binatang negaranya.Dia juga menyatakan bahwa kebun binatang akan menerima kedatangan panda itu dengan hangat meski kandangnya belum dibuatkan.

Hal itu merupakan kebijakan cukup signifikan, mengingat Presiden sebelumnya Chen Shui-bian menolak panda yang dikirim Pemerintah China.Pemerintah China memiliki tradisi mengirim panda kepada negara sahabatnya untuk mengikat kerja sama dengan pemerintah luar negeri. Selain isu China, isu Taiwan akan bergabung menjadi anggota Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) juga mendapat perhatian Ma.

Ma mengatakan, Taiwan akan terus memperjuangkan agar memperoleh keanggotaan PBB tanpa harus melalui referendum. Dia menuturkan, jika Taiwan bergabung menjadi anggota PBB, itu adalah keinginan sebagian besar rakyat Taiwan. ”Namun,setelah gagalnya referendum lalu, Taiwan tidak dapat melakukan referendum serupa dalam waktu tiga tahun sesuai dengan undang- undang,” ujar Ma.

Dia juga menegaskan, Taiwan akan terus melanjutkan usahanya untuk memperoleh kursi di PBB, namun akan menggunakan cara yang lebih fleksibel untuk memperoleh dukungan permohonannya kepada PBB. Menyinggung tentang Olimpiade,Ma mengklaim tetap akan memboikot Olimpiade Beijing jika kerusuhan di Tibet semakin memburuk. ”Kita tidak akan mengirimkan atlet ke Olimpiade jika kondisi di Tibet semakin buruk,” ujarnya. Dia menegaskan, hal itu dilakukan sebagai bentuk kepeduliannya terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan China.

Senin 24 Maret 2008 Koran Sindo

Presiden Chen: Tidak akan memberikan keuntungan bagi Daratan Tiongkok, semua referendum harus berhasil dilaksanakan.

Presiden Chen Shui Bian pada tanggal 3 Maret kemarin ketika diwawancara oleh salah satu stasiun televisi di Taiwan membagi cerita seputar masa 8 tahun pemerintahannya, dan juga jalan masa depan Taiwan. Chen menyebutkan bahwa ia akan tetap bersikukuh terhadap ideologi Taiwan, mengimplementasikan keadilan dalam masyarakat, dan berharap pemerintahan yang baru dapat terus mempertahankan nilai keragaman kebudayaan Taiwan, memelihara keutuhan negara. Chen juga meminta semua rakyat harus membuat referendum yang diajukan, baik bergabung ataupun kembali ke PBB dapat lolos untuk dijalankan, dan tidak memberikan keuntungan sama sekali terhadap Daratan Tiongkok.

Dalam wawancara, Chen juga menyebutkan bahwa dibawah situasi tertekan oleh Daratan Tiongkok, demokrasi adalah senjata terbesar Taiwan, referendum adalah salah satu jalan penting bagi Taiwan untuk bersuara kepada dunia internasional. Oleh sebab itu presiden Chen menegaskan bahwa memeilihara Taiwan lebih penting daripada memelihara partai.

Walau ada sebagian orang yang mengagasi penolakan pengambilan kartu referendum, Chen menganggap bahwa hal ini akan menguntungkan pihak Daratan Tiongkok. Untuk itu rakyat Taiwan harus segera sadar dan harus meloloskan referendum yang diajukan. Presiden Chen mengatakan, “Siapa yang akan untung? Daratan Tiongkok tentu akan sangat senang, partai komunis juga akan turut gembira, ketika membahas hal ini, saya merasa semua orang haruslah bangun dan meloloskan referendum baik itu bergabung atau kembali ke PBB, dan semua hal ini barulah dapat melindungi Taiwan sepanjang masa. Saya selalu mengatakan, tidak perduli apakah anda mendukung pan biru, pan hijau, Hsie Chang Ding atau Ma Ying Jeou, yang penting, semuanya harus mendukung Taiwan.”

Taiwan akan melakukan pemilu presiden pada tanggal 22 Maret yang akan datang, dan juga akan melakukan 2 referendum. Referendum yang pertama yang diajukan oleh DPP adalah pengajuan keanggotaan PBB dengan nama Taiwan. sementara yang kedua yang diajukan oleh KMT adalah kembali bergabung dengan PBB dengan nama yang lebih elastis, baik ROC ataupun Taiwan.

2008/03/04 http://www.Radio Taiwan Internasional.com

Mantan presiden Lee: Jika Hsie kalah maka demokrasi akan mundur 20 tahun

Berkenaan dengan pernyataan mantan presiden Lee Teng Hui ketika diwawancara oleh majalah Shokun, Jepang, yang menyebutkan bahwa jika kandidat pemilu presiden Hsie Chang Ding dari partai berkuasa DPP kalah dalam pemilu kali ini, maka kemajuan demokrasi di Taiwan akan mengalami kemunduran 20 tahun ke belakang, hal ini diasumsikan oleh masyarakat luas bahwa mantan presiden Lee mendukung Hsie Chang Ding.

Berhubungan dengan hal tersebut, Hsie menghormati pernyataan Lee dan juga menyatakan bahwa hal ini juga merupakan kekhawatiran sebagain besar masyarakat luas. Ia mengatakan, “Saya juga melihat banyak dalam situs internet, Ia juga bukan orang yang mendukung pan hijau, juga bukan orang yang mendukung saya, mereka semua juga menyatakan kekhawatiran yang sama. Mantan presiden Lee telah mengeluarkan perasaan hatinya atau ini merupakan pernyataan hati dari masyarakat, dan ia telah mengeluarkannya, semua ini merupakan kekhawatiran banyak orang.”

Sementara itu dari partai oposisi terbesar KMT, kandidat pemilu presiden Ma Ying Jeou juga menyatakan penghormatan terhadap pernyataan Lee tersebut, namun ia juga menegaskan bahwa masyarakat demokrasi memiliki kebebasan untuk memprediksi sendiri isi pernyataan tersebut. Ma mengatakan, “Semua orang harus kembali merenung, sebelum berakhirnya masa hukum darurat perang, bukankah semuanya berjalan seperti demikian, dimana saat itu juga tidak benar-benar dilakukan pengekangan. Terlebih-lebih setelah berakhirnya masa hukum darurat perang. Jika benar demikian, bagaimana mungkin kita dapat menjalankan reformasi demokrasi? Oleh sebab itu mantan presiden Lee selama 12 tahun masa kuasa memegang peranan yang sangat penting, selain berhasil memajukan demokrasi, menstabilkan hubungan antar selat, kemudian menstabilkan kemajuan pembangunan perekonomian, oleh sebab itu saya sering mengatakan bahwa Taiwan di era 90 an merupakan masa yang paling baik.”

2008/03/04 http://www.Radio Taiwan Internasional.com

DPP kembali mengecam pasaran satu Tiongkok yang dikatakan ingin meraih keuntungan dengan menjual industri pertanian Taiwan

Markas besar kampanye calon presiden dan wakil presiden partai berkuasa DPP Xie Chang Ting dan Su Zhen Chang tanggal 8 mengadakan konferensi pers , kembali mengecam pasaran bersama antar selat yang dikemukakan kubu capres partai oposisi KMT Ma Ying Jiu.Ditegaskan kalau dalam beberapa tahun ini lawannya telah menggunakan panggung datar KMT dan Partai Komunis Tiongkok menginves lebih dari 100 miliar dolar Taiwan dalam industri pertanian Daratan Tiongkok namun produk pertanian Taiwan hanya terjual 20 juta dolar Taiwan lebih.

Kubu Xie selain mengecam kalau cara ini tidak hanya menjual industri pertanian Taiwan bahkan meragukan apakah pimpinan KMT , partai pertama rakyat atau PFP dan Partai Baru atau CNP yang disebut dengan pan biru yang mendapat keuntungan darinya.Juru bicara markas besar Xie dan Su , Xiao Mei Cin mengatakan , kini bisa dilihat kalau teknologi pertanian Taiwan mengalir hilang ke Daratan Tiongkok , saat ini produk pertanian Taiwan yang terjual disana 20 juta dolar Taiwan lebih namun modal yang ditanamkan mencapai 10 miliar dolar Taiwan lebih , mengapa pimpinan pan biru yang menggunting pita di Daratan Tiongkok , siapa yang mendapat keuntungan ? dengan modal ekonomi pertanian Taiwan memperjuangkan ekonomi tapi yang untung pimpinan pan biru saja.

Radio Taiwan Internasional, 14 Maret 2008

MAC : satu undang-undang dan dua komunike , memberikan ancaman serius bagi Taiwan

Undang-undang anti pemisahan nasional yang disetujui Daratan Tiongkok kini telah genap 3 tahun , ketua dewan urusan Daratan Tiongkok atau MAC kabinet Chen Ming Tong tanggal 14 mengatakan , Daratan Tiongkok melalui undang-undang anti pemisahan nasional dan komunike Lien Chan dan Hu Jin Tao dan Komunike Song Chu Yu dan Hu Jin Tao menerapkan kerangka baru “ 1 undang-undang 2 komunike “ bagi Taiwan , mempunyai kiat secara bertahap merampungkan sasaran strategi tertinggi mereunifikasikan Taiwan , ini telah menjadi suatu tantangan besar bagi kebijakan atas Daratan Tiongkok dari pemerintah Taiwan.

Chen Ming Tong mengatakan , dibidang politik , pendirian satu Tiongkok Daratan Tiongkok sama sekali tidak akan berubah atau mengendor , dibidang militer , ancaman Daratan Tiongkok terhadap Taiwan juga tidak akan berkurang , penempatan rudalnya tidak akan secara inisiatif dibongkar , sedangkan di bidang ekonomi terus mengembangkan efek menyerap yang bisa dikembangkan dan dibuka lebih lanjut namun sasaran politiknya tidak boleh diabaikan.Chen menambahkan , Daratan Tiongkok juga menggunakan dua komunike agar Taiwan mengalah pada Daratan Tiongkok dalam posisi kedaulatannya , mempercepat ketergantungan ekonomi Taiwan pada Daratan Tiongkok , membangun pasaran bersama dua belah selat dan memberikan panduan salah pada industri pertanian Taiwan untuk masuk Daratan Tiongkok yang memberikan dampak besar bagi perikanan Taiwan.Maka demi perkembangan berkesinambungannya , Taiwan semestinya bersikeras pada posisi kedaulatan Taiwan dan berpegang teguh pada demokrasi dan perdamaian sebagai inti perkembangan hubungan antar selat dan melalui dialog menyelesaikan perbedaan pandangan diantara kedua belah pihak.

Radio Taiwan Internasional, 15 Maret 2008.

Tajuk rencana harian AS : pemilu presiden Taiwan dan referendum merefleksikan pilihan bebas

Tajuk rencana harian Keene Sentinel New Hampshire tanggal 14 mengemukakan , pemilu presiden dan referendum yang diselenggarakan di Taiwan yang bebas , sebenarnya sesuai dengan prinsip kebebasan demokrasi Amerika Serikat tapi Amerika sebaliknya karena takut pada Daratan Tiongkok , tidak berani menghadapi konsep pendirian negara Taiwan.Tajuk rencana yang berjudul “ Keberanian Taiwan “ ini menyatakan , Taiwan setiap tahun mengajukan permohonan bergabung dengan PBB tapi sebaliknya selalu ditolak , Taiwan demokrasi yang berpopulasi 23 juta jiwa hak representatifnya ditolak oleh PBB dan Organisasi kesehatan Dunia atau WHO padahal piagam PBB menetapkan semua negara yang cinta damai bisa berpartisipasi namun sebaliknya hanya menolak keanggotaan Taiwan.Tajuk rencana mengatakan , dikarenakan presiden Chen Shui Bian bersikeras dan pemerintah memutuskan , dalam pemilu presiden yang diadakan tanggal 22 Maret juga diadakan referendum yang berthema bergabung dengan PBB dengan nama Taiwan , referendum ini sama saja secara tidak langsung menanyakan rakyat Taiwan , apakah berpendapat Taiwan mandiri diluar Tiongkok.Menurut analisa tajuk rencana harian bersangkutan , ini adalah strategi yang pintar tapi berbahaya , dilaksanakan pada saat ini , mungkin Taiwan berpendapat Beijing sedang sibuk mempersiapkan Olimpiade , kalau saat ini Daratan Tiongkok menginvasi Taiwan , tidak saja merusak Olimpiade yang akan diadakan , juga mungkin terjadi konflik dengan Amerika.Tapi tajuk rencana menegaskan , perkembangan demokratisasi membuat Taiwan sudah mulai merencanakan arahnya sendiri , walaupun Beijing dan Washington menentang keras namun referendum tampaknya akan diselenggarakan sesuai dengan waktunya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: